Olahraga istilah ini sering menjadi bahan perbicangan sehari-hari oleh masyarakat umum. Definisi Olahraga menurut KBBI adalah gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Tapi olahraga merupakan Inti dari semua cabang olahraga. Seperti Volly, Basket, Sepak Bola, Bulu Tangkis, dll.

Perlu kamu ketahui, bahwa olahraga tidak semata-mata di lapangan ataupun dihalaman. Ada juga yang melakukan aktivitas di Gunung, Laut, Langit, Bahkan di area bangunan proyek.

Sebut aja Outdoor, cabang olahraga yang memiliki kesan ekstream dan berbahaya. Namun untuk melakukan kegiatan Outdoor, tidak lah mudah, terutama pada alat-alat nya yang cenderung mahal diatas harga umum. Itu karena penggunaan alat sesuai dengan tingkat berbahaya nya aktivitas outdoor nantinya. Memang sangat mempesona dalam setiap dokumentasi yang dilihat, seperti mendaki gunung, rafting, dll.

Kini saya membagikan pengetahuan soal Jenis-Jenis olahraga Outdoor, yang harus kamu ketahui ;

1. Hiking (Mendaki Gunung)

Sumber : Phinemo.com

Pendakian umumnya merujuk pada perjalanan panjang dan penuh semangat yang biasanya melewati jalan kecil di area pedalaman. Di Indonesia, pendakian ini identik dengan perjalanan menuju puncak gunung. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh klub-klub pecinta alam. Adakalanya dalam pendakian perjalanan harus melalui hutan lebat, dan harus memotong semak-semak untuk membuat jalur yang bisa dilewati. Pendakian ini bisa menghabiskan waktu lebih dari 1 hari perjalanan.

Peralatan yang dibutuhkan dalam pendakian sebenarnya bergantung pada tingkat kesulitan medan dan estimasi waktu pendakian yang diperlukan. Tetapi setidaknya bagi pendaki harian harus membawa setidaknya air minum, makanan, map dan perlengkapan untuk melindungi dari hujan. Biasanya, sepatu yang digunakan untuk mendaki gunung adalah sepatu boot dan tas ransel sebagai perlindungan untuk melewati wilayah bebatuan serta baik untuk membantu menjaga keseimbangan. Beberapa peralatan lain yang penting bagi pendaki adalah kompas, kacamata hitam, baju hangat, topi, sarung tangan, tongkat untuk mendaki, senter, peralatan P3K, pemantik api dan sebuah pisau. Peta atau peralatan GPS juga merupakan peralatan penting yang harus dibawa sebagai panduan perjalanan.

Bahaya Melakukan pendakian dapat membahayakan nyawa yang bisa disebabkan oleh medan pendakian yang memang berbahaya, cuaca buruk, tersesat, atau pengaruh dari kondisi medis yang sebelumnya telah dimiliki oleh pendaki. Penyakit yang umum diderita oleh pendaki adalah diare, dehidrasi, hipotermia, serangan panas dari matahari, luka, kaki keseleo atau patah.

Ancaman lainnya yaitu serangan dari hewan buas, atau kontak dengan tanaman beracun yang menyebabkan ruam, bahkan termasuk tersambar petir (terutama di tanah yang tinggi).

2. Rock Climbing (Panjat Tebing)

Panjat Tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olahraga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya.

Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45° dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.

3. Rafting (Menyusuri Sungai)

Sumber : Klook.com

Rafting dan Arung Jeram adalah dua hal yang sama. Dalam bahasa Inggris, arus jerang disebut white water rafting yang berarti kegiatan mengarungi sungai dengan menggunakan perahu dan mengandalkan kemampuan mendayung. Dengan demikian, untuk mempersingkat, maka cukup disebut dengan rafting.

Petualangan seru di atas derasnya arus sungai ini termasuk dalam ORDA, Olahraga Arus Deras. Federasi internasionalnya bernama International Rafting Federation atau biasa disingkat IRF. Di bawah naungan organisasi ini, berbagai turnamen arung jeram berskala internasional pun diselenggarakan di negara-negara dengan sungai terbaik—termasuk beberapa kali di Indonesia.

4. Ski (Menyusuri Salju)

Sumber : stratton.com

Ski adalah olahraga salju yang pemainnya menyusuri salju menggunakan dua papan ski yang dipasang di kaki dan tongkat yang dipegang dengan tangan untuk membantu keseimbangan kita.

Ski merupakan salah satu cabang olahraga yang ada di olimpiade musim dingin. Di Indonesia, ski tidak terlalu terkenal. Yap, olahraga ini lebih terkenal di negara empat musim. Namun, jika teman-teman ingin menekuni olahraga ini, tidak ada salahnya, kok.

5. Sky Diving (Terjun Bebas)

Sumber : wia.id

Sky Diving dan Terjun payung adalah aktivitas yang melibatkan terjun dari sebuah pesawat terbang menggunakan parasut yang dapat dibentangkan. Sejarah awal terjun payung tidak jelas. Diketahui Andre-Jacques Garnerin membuat lompatan parasut dari balon udara panas pada tahun 1797.

Sky diving dan terjun payung sama-sama dilakukan dengan cara melompat dari suatu ketinggiah baik dari pesawat atau tempat yang tinggi. Nah, bedanya kalau terjun payung memang bertujuan untuk melambatkan kecepatan terjun dengan parasut yang dipasang pada bagian belakang penerjun sehingga penerjun bisa mendarat di permukaan tanah dengan mulus tanpa benturan keras. Sedangkan untuk sky diving, penerjun yang lompat dari pesawat nggak langsung membuka parasut melainkan melakukan atraski akrobat di angkasa sekitar satu menit sebelum waktunya untuk membuka parasut.

Baca Juga : Kisah Mendaki di Gunung Argopuro

6. Snorkeling (Menyusuri Laut)

Sumber : checkyeti.com

Snorkeling Selam permukaan (bahasa Inggris: snorkeling) adalah kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel. Selain itu, penyelam sering mengenakan alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) untuk menambah daya dorong pada kaki.

Snorkel adalah peralatan selam berupa selang berbentuk huruf J dengan pelindung mulut di bagian ujung sebelah bawah. Alat ini berfungsi sebagai jalan masuk udara ketika bernapas dengan mulut tanpa harus mengangkat muka dari permukaan air. Pemandangan bawah air bisa dilihat sambil berenang dengan wajah menghadap ke permukaan air dan bernapas melalui snorkel. Penyelam bisa mengambil napas dalam-dalam sebelum menyelam ke bawah air. Penyelam skuba menggunakan snorkel untuk menghemat udara di dalam tabung sewaktu berenang di permukaan air.

Kegiatan selam permukaan bisa dilakukan semua orang. Penyelam yang tidak bisa berenang atau tidak bisa mengapung bisa mengenakan baju pelampung. Ketika menyelam di air bersuhu rendah, penyelam memakai baju selam untuk menjaga tubuh dari kedinginan. Selain itu, baju selam merupakan pelindung tubuh dari luka tergores terumbu karang atau sengatan ubur-ubur.

7. Mountain Bike (Bersepedah di Gunung)

Sumber : Bikeradar.com

Sepedagunung atau Mountain Bike (Inggris: All Terrain Bike /ATB atau Mountain Bike /MTB) adalah sepeda yang digunakan dalam medan yang berat. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970, oleh pengguna sepeda di perbukitan San Fransisco. Ketika pertama kali dipamerkan pada New York Bike Show pada tahun 1981, penemu sepeda gunung mengatakan bahwa sepeda jenis ini tidak akan pernah populer. Kenyataannya 80% sepeda yang terjual di Amerika Serikat adalah jenis ini. Sepeda gunung adalah jenis sepeda yang pertama kali dinaiki sampai ke puncak gunung Kilimanjaro, titik tertinggi di benua Afrika, 5.895 m.

Secara umum sepeda gunung dibagi menjadi 5 jenis menurut disiplin atau fungsi bersepeda, diantaranya yaitu:

Sejak saat itu dunia mengenal sepeda gunung ini. Ciri-cirinya adalah ringan, bentuk kerangka yang terbuat dari baja, aluminium dan yang terbaru menggunakan bahan komposit serat karbon (carbon fiber reinforced plastic) dan menggunakan shock breaker (peredam goncangan). Sedangkan ban yang dipakai adalah yang memiliki kemampuan untuk mencengkeram tanah dengan kuat. Sepeda gunung memiliki 18-30 gear pindah yang berguna untuk mengatur kecepatan dan kenyamanan dalam mengayuh pedalnya. Sepeda gunung dengan 30 gear berarti memiliki crankset depan dengan 3 piringan dan cassette sprocket dengan 10 piringan, sehingga 3×10=30 tingkat kecepatan yang berbeda.

Cross country (XC) 

Dirancang untuk medan yang tidak terlalu ekstrem (ringan), sepeda jenis ini hanya mempunyai suspensi depan atau tanpa suspensi sama sekali. Karena hanya memiliki suspensi depan biasanya sepeda gunung jenis ini dikategorikan sebagai hardtail frame.

Dirancang agar efisien dan optimal pada saat mengayuh di tanjakan, di jalan beraspal hingga jalan tanah pedesaan dan perjalanan jarak jauh. Sepeda jenis ini sangatlah disarankan bagi pemula yang ingin memulai bermain MTB. Sepeda jenis XC dirancang memakai suspensi depan (fork) dengan travel antara 80–120 mm, dan sangat tidak disarankan untuk mengganti panjang travel lebih dari yang telah ditetapkan oleh produsen.

Trail XC 

Sepeda Trail adalah perkembangan dari sepeda XC, yang umumnya digunakan oleh pengendara MTB rekreasi, dengan medan trail off-road.

Sepeda ini biasanya memiliki travel dengan ukuran antara 120–140 mm. Sepeda Trail XC biasanya dibuat untuk menghadapi medan kasar lebih baik daripada sepeda jenis XC

Enduro/All-Mountain (AM) 

Biasa dipakai untuk jalur perpaduan antara cross country (XC) dan downhill ringan (light DH). Didesain untuk melintasi medan yang berat seperti naik dan turun bukit, memasuki hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan off-road jarak jauh. Memiliki 2 suspensi depan dan belakang (double suspension).

Panjang suspensi belakang (rear suspension) sekitar 6 inci dan panjang suspensi depan (fork) mulai dari 140–160 mm. Pengguna dapat melakukan pendakian gunung dengan baik (tidak berat), sekaligus juga dapat menuruni gunung dengan cepat (tidak berguncang-guncang), karena panjang suspensi yang optimal. Keunggulan sepeda jenis ini ada pada ketahanan dan kenyamanannya untuk dikendarai. Nama lain dari sepeda jenis ini adalah “Enduro”.

Free Ride (FR) 

Dirancang untuk mampu bertahan melakukan lompatan tinggi (drop off) dan kondisi ekstrem sejenisnya.

Rangkanya kuat namun tidak secepat dan selincah sepeda jenis All-Mountain, karena bobotnya yang lebih berat, maka kurang cocok untuk digunakan dalam perjalanan jarak jauh dan sangat tidak cocok untuk tanjakan. Sepeda jenis ini spesifikasinya mirip dengan jenis Downhill. Sepeda jenis ini memiliki panjang suspensi fork bertravel antara 180–200 mm.

Downhill (DH)

Dirancang Untuk medan yang sangat ekstrem, sepeda gunung jenis ini mempunyai suspensi ganda (double suspension) untuk meredam benturan yang kerap terjadi ketika menuruni lereng dan dapat menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi. Dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung.

Sepeda jenis ini tidak mengutamakan kenyamanan dalam mengayuh karena sepeda jenis ini hanya dipakai untuk menuruni lereng bukit atau gunung. Sepeda ini juga dipakai dalam perlombaan, sehingga yang menjadi titik utama dalam perancangannya adalah bagaimana agar kuat namun dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju lokasi, para downhiller tidak mengayuh sepeda mereka, tetapi sepeda mereka diangkut dengan mobil. Sangat tidak efisien jika sepeda ini digunakan di dalam kota maupun di jalur cross country. Travel suspensi depan sepeda ini sama dengan jenis sepeda FR, antara 180–200 mm.

Dirt Jump (DJ) 

Sepeda jenis ini awalnya dirancang untuk anak muda perkotaan, selain sebagai alat transportasi, untuk kebut-kebutan di jalan raya kota, atau juga digunakan untuk melakukan atraksi lompatan tinggi dan atraksi-atraksi ekstrem lainnya. Fungsi dari sepeda jenis ini sangat mirip dengan BMX, tetapi dengan bentuk yang diperbesar. Nama lain dari sepeda jenis ini adalah trial atau urban MTB.

4 comments

Tinggalkan Balasan