Judul Buku : Marxisme dan Evolusi Manusia
Penulis : Dede Mulyanto
Tahun Terbit : 2011
Penerbit : Resist Book
Kota Terbit : Yogyakarta
Halaman : 144 halaman
ISBN : 9789791097933


Download Ebook : Via Google Drive


Kesimpulan di atas masih menyisakan pertanyaan penting : karena kepentingan reproduktif dua jenis kelamin berbeda, sebelum berkem-
bangnya kepemilikan pribadi dan dengan demikian ada kebutuhan akan

Baca Juga :Si Roy, Antara Dua Perempuan

kepastian dalam nisbat bapak dari anak-anaknya, apa yang membuat (beberapa) jantan berminat menyumbangkan daging kepada betina yang sedang tidak subur? Atau terkait dengan spekulasi Engels, kondisi apa
yang memungkinkan terbangunnya “saling toleransi di antara jantan” dan “kemerdekaan dari kecemburuan” itu? Jawaban atas pertanyaan di atas kiranya perlu ulasan tersendiri yang melampaui tujuan tulisan ini. Di sini cukuplah kita tarik kesimpulan

bahwa pertama, meski data yang diajukan sepanjang tulisan belum tegas-
tegas membenarkan hipotesis Marx dan Engels ihwal “komunisme primitif” sebagai bentuk organisasi sosial paling asali dalam evolusi
sosial manusia, namun dari situ kita dapat secara tegas menampik

kemungkinan organisasi sosial berbasis keluarga batih monogami atau-pun keluarga poligini sebagai unit paling asali dalam evolusi organisasi sosial manusia. Gagasan Westermarck yang ditegaskan Malinowski

ihwal keasalian keluarga batih monogami lebih merupakan sebuah dongeng ketimbang kesimpulan empirik. Kedua, bukti-bukti yang diajukan dalam tulisan ini menyokong hipotesis Marx bahwa organisasi sosial asali manusia “bermula di dalam kebutuhan-kebutuhan keluarga konsanguin” terkait dengan reproduksi
biologis (1).

Reproduksi biologis atau prokreasi, dalam pemikiran Marx dan Engels, merupakan satu dari dua sisi “produksi kehidupan” manusia yang “pada satu sisi sebagai sesuatu yang alamiah, pada sisi lain sebagai suatu hubungan sosial”(2).

Bersama produksi sarana hidup, prokreasi membentuk apa yang disebut keduanya sebagai “koneksi materialis” atau “metabolisme manusia-alam” dari masyarakat manusia yang bentuk dan dinamikanya “ditentukan kebutuhan-kebutuhan dan cara produksi
mereka”(3).

Kebutuhan-kebutuhan itu sendiri bukan sesuatu yang tetap dan pejal dalam dirinya sendiri karena “mengada di bawah hubungan-hubungan” antarindividu “dan hanya berubah bentuk serta arahnya dibawah hubungan-hubungan sosial berbeda”4.

Oleh karena itu, ketiga, kalaupun ada yang namanya kodrat manusia (human nature), maka tentulah bukan pada individualitas, tapi sosialitas-historis yang merupakan reaksi terhadap kontradiksi-kontradiksi yang berakar dari dialektika biologi dan ekologi; pewarisan dan adaptasi. Meski demikian, Marx menegaskan bahwa “esensi manusia bukanlah abstraksi inheren di dalam setiap individu tunggal. Di dalam kenyataan-nya esensi itu ialah jalinan hubungan-hubungan sosial”5. Penegasan ini berangkat dari pengertian manusia yang dipahami “tidak di dalam setiap isolasi dan kepejalan fantastik, tetapi di dalam proses-proses aktual yang secara empiris terindrai dari perkembangan di bawah kondisi-kondisi

Tinggalkan Balasan