Sudah enam pekan berlalu sejak keluarnya surat edaran Mendikbud No 4 Tahun 2020 mengenai kebijakan baru dalam pelaksanaan pendidikan di masa darurat penyebaran Corona Virus di Indonesia. Inti dari surat tersebut adalah untuk mengalihkan proses pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran dari rumah.

Pembelajaran dari rumah ini dilaksanakan mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga jenjang Pendidikan Tinggi (PT). Berdasarkan surat edaran dari tersebut, untuk pelaksanaan pembelajaran dari rumah mayoritas orang memilih menggunakan jejaring digital sebagai media dalam proses belajar mengajar atau lebih dikenal dengan sekolah daring dan kuliah daring.

Hingga saat ini aplikasi seperti Zoom, Gmeet, Skype, Google Classroom, Edmodo merupakan aplikasi online yang digunakan dalam proses belajar mengajar selama masa darurat penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Meskipun banyak media digital yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Banyak juga kendala dalam proses pembelajaran secara daring ini. Mulai dari ke-terbatasan akses internet, pembengkakan biaya untuk paket data, serta banyaknya tugas online yang diberikan oleh pendidik tanpa adanya pendampingan pembelajaran yang semestinya.

Banyaknya tugas secara online yang diberikan pendidik kepada peserta didik ini tentunya menjadikan beban tersendiri bagi peserta didik. Dimana peserta didik belum memahami terkait dengan materi pembelajaran tapi sudah dihidangkan tugas yang banyak serta deadline pengumpulan tugas yang begitu singkat. Belum lagi, karena pembelajaran dilakukan dari rumah atau study from home (SFH).

Pembelajaran dari rumah membuat para pelajar mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi secara maksimal karena selain belajar, para peserta didik juga harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Fenomena menumpuknya tugas online ini bukan hanya dirasakan oleh pelajar sekolah, bahkan mahasiswa juga terbebani dengan adanya tugas online yang menumpuk dari dosen. Tugas online ini sempat menjadi trending di media sosial seperti twitter, sehingga memunculkan banyak cuitan dari warga-net di Twitter.

Terutama yang masih berstatus pelajar hingga mahasiswa menyampaikan keresahan mereka mengenai pembelajaran daring yang hanya penuh dengan tugas dari guru dan dosen. Selain cuitan di Twitter, para pelajar juga mengekspresikan keresahan nya dengan membuat video-video parodi yang diunggah ke laman media sosial.

Faktor pokok yang berdampak secara tidak efektifnya pembelajaran daring saat ini adalah kurangnya penguasaan dan penggunaan teknologi digital secara maksimal, baik itu oleh pendidik maupun peserta didik. Selain itu tidak ada kesiapan bagi pendidik untuk mengalih fungsikan metode pembelajarannya, dari tatap muka menjadi pembelajaran daring yang memanfaatkan media digital, hal itu didukung dengan tidak adanya kebijakan atau kurikulum mengenai pembelajaran secara daring.

Berdasarkan hal tersebut menjadikan pendidik ke-sulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran yang berbasis dalam jaringan internet. Sehingga kebanyakan alternatif yang dipilih oleh para pendidik agar pembelajaraan dapat terus berjalan adalah dengan memberikan tugas pada peserta didik.

Dalam prakteknya kebanyakan para pendidik hanya memberikan materi dalam bentuk softlfile yang disertai dengan penugasan, tanpa adanya interaksi yang intensif dengan peserta didik. Kurangnya komunikasi dan interaksi antara pendidik dan peserta didik menjadikan iklim belajar yang tidak sehat. Hal tersebut menjadikan peserta didik kebingungan dengan materi yang dipelajari sekaligus merasa tertekan dengan penugasan yang tenggat waktu pengumpulannya singkat.

“Pasalnya masih sedikit sekali pendidik yang dapat menerapkan pembelajaran daring ini secara efektif.”

Bila iklim pembelajaran yang tidak sehat ini terus berlangsung maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran secara daring tidak akan berjalan pada semestinya. Selain itu, akan berdampak kepada peserta didik yaitu, mengalami stres berkelanjutan dan terbebani secara batin, karena akibat dari tekanan belajar, baik dari model pembelajaran yang diaplikasikan oleh pendidik serta pengaruh dari lingkungan  belajar.   

Oleh karena itu, agar terciptanya iklim pembelajaran yang baik selama masa darurat COVID-19 ini, semua elemen harus saling berkolaborasi dalam membentuk proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi peserta didik. Dimulai dari tenaga pendidik, peserta didik, pemerintah, serta orangtua harus saling berkolaborasi dalam hal ini.

Tinggalkan Balasan