Dingin malam musim kemarau berkepanjangan dipenghujung bulan july sampai September, dan dingin kemarau tak kunjung sampai musim hujan. Hari ini terasa panas dengan setiap sinar mentari maupun angin. Waktu sudah bulat akibat pandemi datang tak permisi. Dan akhirnya kau yang pernah singgah dalam siasatku pergi begitu saja. Memang kita berjumpa tak lama dan baru saja. Dikala musim hujan bulan januari dengan setiap rintik airnya. Aku menerima mu seperti ibuku menerima ku.

Tapi nasib tak berpihak kepadaku. Hari-hari pun berubah sendu dalam pemandangan desa, dirumah ku aku menyendiri merenungi setiap kisah waktu-waktu lalu.

Waktu telah banyak menodai kisahku. Kini aku harus menerima setiap luka yang ada dalam diriku. Memang menyakitkan, sehingga banyak waktu kuhabiskan dengan merenungi, dan bertanya-tanya akan kenapa ini terjadi.

Beberapa kawan, mencoba menghibur dan memberikan solusi. Aku pun harus menerima setiap kenyataan.

Baca Juga : Aku Rindu Alam Yang Asri dan Hijau

Tak lama selepas hubunganku dengan dia, sudah berakhir. Kini aku mencoba mengadu nasib dengan mengiyakan solusi kawanku. Ia mengenalkan ku kepada temannya, tetapi temannya sudah memiiki pacar dan aku harus menjadi penjahat (dalam ajakan kawanku yang sedikit sesat). Tapi aku enggan menuruti apa yang disampaikan kawanku itu.

Pada kesempatan dalam kegelisahan, fikiran, perbuatan, bahkan kenyataan yang menjadi hal yang pilu. Kala itu aku masih mengenal satu cewek yang masih se-frekuensi kepadaku. Tetapi aku belum pernah bertemu dengannya, sekalipun. Hanya melalui chat whatapps. Dan aku sedikit ragu tentang diriku.

Baca Juga : Puisi | Edisi September Oleh M Rifki Kurniawan

Memang hidup ini pertarungan dari setiap keberanian hidup. Diantara sanubari keyakinan dan kepercayaaan kepada sesosok pujangga hati. Terlepas dari kepentingan duniawi. Aku mencarimu karena kesadaran diri akan mencari siasat kehidupan.

Itulah mengapa cinta sangat berarti bagiku. Teruntuk pelukan dalam perlawanan. Kepada rasa yang diadu dengan kondisi yang menggembu. Namun aku harus sadar diri. Karena sebuah kisah tanpa harta dan tahta. Dan aksara semata hanya hal yang tabu diantara beribu cewek yang mengejar materi.

Rasaku memang tak berujung kepada duniawi, tapi keabadian diriku akan melekat kepada mereka yang memperjuangkan cintanya meski mereka harus menerima kenyataan yang pilu. Dari sebuah warna hidup. Aku mewarikan kepada mereka yang melawan kepada ketidakadilan, mereka yang ingin bersiasat kepada cinta kehidupan. Dan cewek adalah surga yang patut dihargai dan dirawat, jangan dibiarkan menanggis apalagi sakit hati.

Leave a Reply