Musim hujan tiba saat bulan januari datang, saat itu setelah malam tahun baru tepat pada minggu pertama adalah akhir dari semester ganjil ku, dan aku masuk pada semester selanjutnya.

Tepat pada akhir bulan febuari, saat aku melihat jadwal dan tanggal tak terasa libur semester telah usai begitu saja. Mengambil leptop, buku, tas, baju, berangkat dari desa menuju kampus diluar kota dengan hati yang gembira. Menjemput masa perkuliahan saat itu juga.

Baca Juga : Jangan Mendaki di Hari Libur Nasional

Setiba nya aku disana, tak terasa hari mulai jenuh dengan bising nya kota yang penuh akan kendaraan. Dalam hati ku tak ada yang ku fikir selain persoalan pribadi.

Usai semua diklat organisasi disemester satu kala itu, kini memasuki masa baru dimana seseorang merasa berbeda dari apa yang disukai nya, memang pada saat itu semua mahasiswa merasa salah jurusan bahkan menginginkan pindah dan drop out perkuliahan.

Aku merasakan itu, tapi aku curhat dengan kawan organisasi ku yang setia menemani ku. Soal kampus, memang di UMM ada aturan yang melarang berambut gondrong itu hal ganjil menurutku dan tidak membuat ku bahagia kalo mendengar aturan itu.

Bayangkan jika ada orang protes soal rambut, itu rata-rata di SMA ataupun Pondok Pesantren, tapi ini kampus cuy yang notaben nya kebebasan berekspresi dan kebebasan berfikir.

Coba deh kamu diposisi ku saat itu, antara marah, gelisah, semua penat fikiran menghantui seketika itu juga.

Kampus ku biasanya memiliki budaya status quo ormas mahasiswa, dimana tidak ada kerukunan antar ormas itu sendiri, tapi jika masalah rambut semua ormas itu rukun. Karena masalah rambut ini bukan hal yang biasa melainkan luar biasa, sehingga sebuah gaya hidup manusia telah diseragam kan begitu saja.

Jika mengaca di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) juga di UI (Universitas Indonesia) tidak pernah terdengar persoalan rambut. Tapi kedua kampus itu memberi kebebasan berfikir dan berekspresi pada mestinya.

Jauh berbeda dengan kampus ku yang bisa dikatakan neoliberal, semua harus teradministrasi, dan tidak ada kata telat ataupun tidak sengaja. Rambut juga sama, sedikit melewati alis, dan telinga, bersiap lah saat itu juga. Dimana dosen yang hakikat nya mengajar berubah menjadi pencukur rambut setika melihat mu berambut gondrong ataupun panjang.

Mengerikan bukan ? bahkan soal rambut ini berpengaruh dalam nilai akademis dan pengaruh pada layanan fasilitas kampus. Ngeri bukan ? kampus ku itu setara seperti akademi militer.


Bersambung

1 comment

Tinggalkan Balasan