Musim hujan telah berganti kepada musim kemarau. Gema semarak kemerdekaan telah usai. Memasuki jenjang baru dengan harapan baru. Kini aku telah berpaling dari semester dua, dan sekarang aku memasuki semester 3. Dengan tekad yang membara dan fikiran yang telah siap memgempur setiap dinamika kampus. Aku sangat percaya diri.

Memasuki hari pertama kuliah, memang sedikit mengkagetkan. Dengan kelas baru, dan kawan baru. Aku pun merasa senang diminggu pertama pada semester 3.

Baca Juga : Cerita di Semester 2

Namun, disemester 3 ini, aku harus bertanggung jawa kepada organisasi ku, dimana di saat itu juga aku mulai mendapat amanah menjadi Pemimpin Umum (PU) Pers Mahasiswa, Didaktik. Hal yang sangat membanggakan bagi aku.

Tetapi ditahun 2019 ini, banyak hal yang terjadi. Terutama dari putaran arus gerakan mahasiswa yang mulai memuncak. Aku pun sering terlibat aksi dan diskusi hingga menciptakan karakter baru bagi diriku. Mungkin ini adalah hikmah, dari jalan mahasiswa yang aku ambil.

Hampir 1bulan dengan 4kali aksi kamisan di Malang. Hampir setiap minggunya aku memegang Kordinator Lapangan (KORLAP). Memang ini sangat membanggakan bagi aku pribadi. Namun berbalik dari kenyataan. Di tahun inilah aku harus menjadi seseorang yang tanngguh dan ikhlas. Dimana aku banyak menerima represifitas dari Aparat Keamanan.

“Sepanjang hari selalu berfikir, apakah aku salah ? kepada Negara…”

Tapi aku hanya melakukan demokrasi sebagaimana mestinya, kok diperlakukan seperti terrorist ya. Disinilah aku mulai berfikir “negara tidak pernah memberikan demokrasi kepada rakyatnya”.

Setiap hari, baik siang dan malam. Aku selalu diikuti oleh orang yang tidak ku kenal. Mereka seperti polisi berpakaian preman (INTEL). Dalam fikirkan ku, apakah aku menyuarakan kebenaran itu salah ? bukankah dalam ajaran agama itu mengajarkan manusia saling menjujung tinggi kebenaran.

Semester 3 ini menurutku cukup tragis, dimana aku harus mengamankan diri agar terlindungi dari pemantauan polisi. Kuliah pun harus aku vakum kan sementara. Karena banyak represifitas muncul dipermukaan masyarakat ketika aku lewat ataupun ngopi.

“Oh tuhan, kenapa seorang aktivis harus bernasib seperti ini ? apakah kebenaran harus hilang. Tolong lah aku tuhan, sekedar diskusi dan membaca buku, kenapa harus diawasi seperti penjahat” ungkapku dalam doa.

Bulan September 2019, ini adalah moment terakhirku, diakhir semester 3. Dimana gerakan mahasiswa memuncak karena persoalan RKUHP yang semakin bulat dan tidak jelas mau diapakan. Sehingga dengan nurani hati, semua kawan dari seluruh elemen kerakyataan, aku buat konsolidasi bersama kawan-kawan aliansi.

Tepat pada tanggal 23 – 30, Agustus 2019. Gerakan mahasiswa pecah, hampir diseluruh kota, disetiap kampus, jalan raya. Rakyat Indonesia mulai menentukan nasibnya. Aku dengan kawan-kawan pergerakan di Malang. Mulai bergerak dengan teknis yang sama, yaitu “MOSI TIDAK PERCAYA”.

Tentu ini menjadi pengalaman terbaik dari semester yang lain. Karena semester 3, kuliah ku hancur, karena membela rakyat. Ini merupakan cerita dari kenyataaan ku sebagai mahasiswa. Semoga dengan pengalaman ku, aku bisa mengambil hikmahnya.

1 comment

Tinggalkan Balasan