Di bulan Agustus pada tanggal 17, semua orang akan merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Tetapi untuk perayaan kemerdekaan ini dilakukan dengan beberapa cara, terutama upacara bendera diatas gunung. 

Saya pun memiliki keinginan untuk mendaki kala itu. Memang upacara bendera adalah hal yang keren bagi saya. Karena dengan melakukan upcara diatas gunung akan memberikan kesan tersendiri bagi pengiatnya.

Upacara 17 Agustus, Puncak Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.

Ngomong-ngomong soal mendaki, saya bertujuan ke puncak Pawitra, Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Berawal dari ajak kawan untuk melakukan pendakian bersama, pada saat itu saya tidak sepenuhnya menerima ajakan kawan saya itu. Hasilnya saya mendaki seorang diri.

Gunung Penanggungan terletak di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan. Untuk mendaki gunung ini sangat mudah dijangkau para pendaki. Termasuk saya yang belasan kali ke Penanggungan tidak merasakan kebosanan. Konon puncak pawitra ini memiliki mitos “dulu gunung semeru puncaknya di potong oleh dewa siwa dan indra, lalu potongan puncaknya di sebut sebagai gunung penanggungan”.

Baca Juga : Kisah Mendaki Gunung Argopuro

Dihari baik ini, saya seorang diri menaiki motor menuju tempat perizinan pendakian gunung penanggungan. Ya karena saya juga jomblo maka saya sendiri, hehehe. Saya berangkat pukul 09:00 WIB, dan tiba di pos perijinan sekitar 12:00 WIB.

Saya kaget selepas tiba di pos perijinan, ketika melihat gerombolan pendaki segitu banyaknya memenuhi pos perijinanan. Wah kok ramai sekali ya, padahal mendaki itu capek dan banyak resko, Ucapku didalam hati.

Jujur Ku akui mendaki pas mau upacara bendera 17 Agustus di Gunung Penanggungan adalah penyesalan terbesar bagi saya. Karena saya merasakan mendaki itu sekedar cari foto, itulah mengapa saya sangat kecewa.

View, Gunung Arjuna-Welirang dari Puncak Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.

Terutama pasangan belum menikah yang sedang asyik menikmati berduaan, bermesraan didalam tenda. Paling parah, mereka saling melakukan hubungan intim. Tentu saya sangat geram melihat dinamika yang sangat tidak ada penghormatan bagi alam dan makhluknya.

Saya saat mengabadikan foto di puncak pawitra (Penanggungan).

Entah apa yang merasuki semua pendaki saat itu. Saya yang melakukan solo hiking merasa tidak nyaman dan menjadi sorotan banyak orang, karena pakaian saya secara visual berstandart pendakian, sedangkan banyak orang yang mengabaikan pakaian standartisasi pendakian.

Sekian cerita dari saya, semoga membantu dan bermanfaat. Terimakasih sudah membaca di Rifkipedia.

2 comments

Leave a Reply