Pada bulan mei 2020, covid-19 memasuki masa keduanya, begitu yang diungkap oleh who.int. Tetapi hal yang mengjutkan tiba begitu saja di Indonesia.
Jokowi Widodo, Presiden Indonesia (Periode 2019/2024) mengumumkan keputusan baru untuk menyikapi rantai-penyembaran pandemi, dengan metode berbeda dari sebelumnya. Sebut aja New Normal, adalah metode nya.

Tetapi angka kenaikan angka penyebaran pandemi ini naik begitu cepat. Melansir infocovid19.jatimprov.go.id/, di Jawa Timur pada (2/06/2020) tercatat ada 36.809 kasus, diantara nya 5132 orang yang dinyatakan Positive terjangkit, namun ada 6754 Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 24923 (Orang Dalam Pemantauan). Tentu ini bukan angka yang sedikit, bahkan terbilang banyak sekali.

New normal merupakan keputusan untuk menormal kan segi per-ekonomian di Indonesia. Dengan begitu, maka aktivitas kerja akan diberlakukan kembali seperti semula. Namun untuk melaksanakan New Normal akan diberlakukan beberapa sistem protocol.

Melansir Detik.com  Organisasi kesehatan dunia WHO telah menyiapkan pedoman transisi menuju new normal selama pandemi COVID-19. Dalam protokol tersebut, negara harus terbukti mampu mengendalikan penularan COVID-19 sebelum menerapkan new normal.

Pengendalian ini juga harus bisa dilakukan di tempat yang memiliki kerentanan tinggi misal panti jompo, fasilitas kesehatan mental, dan wilayah dengan banyak penduduk. Langkah pengendalian dengan pencegahan juga harus diterapkan di tempat kerja.

“Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja mulai ditetapkan seperti jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan etika pernapasan,” kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P Kluge dikutip dari situs resmi lembaga kesehatan dunia tersebut.

Indonesia Tercatat dengan sebagai Negara yang memiliki ketidak-disiplinan warga nya, mengamati beberapa wilayah di pulau jawa, masih banyak yang mengabaikan penggunaan protokol covid-19, dan masih banyak tempat keramaian. Tentu, sangat berbahaya jika New Normal diterapkan.

Sebelum adanya New Normal, Indonesia menerapkan pembatasan sosial berskala besar, juga sosial distancing yang mengharuskan #dirumahaja. Dan itu pun tidak sepenuhnya terlaksana, karena mayoritas masyarakat masih banyak yang berkumpul di area keramaian.

Seharusnya pemerintah berfikir matang-matang sebelum mengemukakan New Normal ini karena secara kuantitas masyarakat, masih banyak yang tidak mengikuti protokol, namun New Normal bukan solusi untuk pemutusan rantai penyebaran, malah menjadi kasus yang buruk untuk masyarakat Indonesia.

Melansir www.cnbcindonesia.com/, Korea Selatan pernah menerapkan keputusan serupa. Tetapi setelah diterapkan, Ada dua kluster baru yang muncul di ibu kota negara Seoul. Per Sabtu (30/5/2020), Korsel mencatat 39 kasus baru, termasuk 27 transmisi lokal yang membuat jumlah kasus kini menjadi 11.441.

Dan menurut saya, New Normal adalah kesalahan kedua dari pemerintah. Karena terlalu mementingkan para pemodal dibandingkan kesehatan rakyat nya sendiri.

Pada saat sosial distancing, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), memang seluruh masyarakat diliburkan bekerja, karena untuk memutus rantai penyebaran pandemi. Namun, pemerintah tidak ada upaya untuk meng-backup perekonomian warganya. Jauh berbeda dengan Negara-negara didunia, Indonesia malah membuka tambungan donasi Internasional.

3 comments

Tinggalkan Balasan