Pejalan trotoar

Berpijak kaki dibawah langit biru
dengan semua lara yang berada ditana
menekan tanpa spasi ia sangat keji
tak tahu diri apa yang menjadi inti

Namun kaki ini tetap bersahabat
dengan semua dengki, ia punya nurani
tanpa seragam tanpa barisan
ia berlari dengan kebenaran dunia

Suatu ketika kaki ini menjadi duka
ia diseret dipukul bahkan ditembak
tak tahu apa yang membelenggu
tapi kaki ini saksi atas para tirani

Pesan Anak kepada Ibu

Jauh disebrang aku berada
dengan tas dipunggung yang kubawa
harap hati orang yang ku cinta
beban ini sangat berat sekali

Pagi tiba hari pun datang
berani berbicara didepan para birokrasi
suara itu datang dari ujung sana
anakmu sedang berbaik hati

Kenapa dengan sekarang
para rakyat digusur
dengan alasan kurang makmur
sawah ladang hanya sebatas hutang

Sejenak aku berdiri dengan berat hati
tangis keras kepadaku oleh mereka
yang berdoa agar hari ini mereka aman
Tanpa penggusuran tanpa pembangunan

Air Mata

Waktu adalah kunci hidup
dia menentukan kemana kita pergi
tergores tersetuh hingga terbunuh
tak ada yang tahu akan mula nya

Berkumpul bocah dipinggir terminal
memainkan bola sambil terguyur hujan
diantara lusuhnya kota ia bahagia
terbaring ditembok adalah hal biasa

Wajah keras

Disana tempat itu ramai sekali
para warga yang geli tak takut mati
dihadapan muka ada senjata api
berdiri dengan kedua kaki unjuk gigi

mulut berbunyi
hanti gemetar tak henti
kau tahu apa yang tau
kenapa kita harus bersembunyi

Denting jam sudah larut malam
kita canggung diantara kertas
teriak mulut kepada pejabat
kenapa nasib tak memihak rakyat

hai kau yang disana
tunggu sebentar lagi
semua nahkoda telah datang
menggoyah kursi kursi gedung




Tinggalkan Balasan