Sebuah Perjalanan, hutan dan 17 Agustus

0
31
Fotografer : Muhammad Rifki Kurniawan

Bulan agustus selalu bersimbol akan hari kemerdekaan Negara Indonesia yakni (17/Agustus/1945).  Ditahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini saya melakukan sebuah pendakian di sebuah gunung yang terletak antara dua provinsi, yaitu jawa tengah dan jawa timur. Gunung itu bernama lawu, yang gagah dan tinggi, diantara kabupaten magetan dan karanganyar, tentu menjadikan pendakian ini sangat menarik,

Mendaki adalah persoalan hati dan fikiran akan sebuah perjalanan. Gunung Lawu menjadi tujuan bagi saya untuk melakukan pendakian.

Siasat suara rimba raya seakan sudah memanggil ku dari isyarat yang disampaikan angin kepada dedaunan.

Di hari itu (15/Agustus/2019), ku nyalakan mesin motor, ku periksa isi tas karier ku, dan ku lihat catatan dan berfikir, apa sudah siap ya ? atau ada yang ketinggalan, ucap ku dalam fikiran

Dengan ikrar sebuah petualang yang akan menjelajah setiap ruang dan waktu duniawi ,saya langsung menyalakan mesin motor dan menancapkan gas motor, dan akhirnya saya berangkat dari rumah untuk menuju tujuan saya yaitu basecham pendakian.

Tidak sekedar dengan keyakinan dan keberanian serta alat alat yang cukup untuk saya lakukan perjalanan. Namun dengan senyuman dan tak lupa berdoa yang saya ucapkan dalam diri dan fikiran saya, membuat saya semakin yakin atas semua kejadian dihari ini.

Siang pukul satu berangkat dari rumah, melintas beberapa desa dan juga kota. Menaiki motor matic dengan bahagia dengan ditemani rokok ditangan kiri, membuat saya semakin nyaman terhadap perjalanan menuju basecham pendakian.

Selepas perjalanan dari kabupaten bojonegoro menuju kabupaten ngawi, tak terasa begitu cepat, dengan melintasi hutan maupun perdesaan.

Adzan ashar sudah terdengar di telinga, yang indah dan memaksa diri untuk berhenti sejenak. Entah sadar atau tidak tetapi saya sudah sampai di kecamatan maospati, kabupaten magetan di tanggal (15/08/2020).

Istirahat sebentar sesuai melaksanakan ibadah sholat, sambil menikamti kopi di area terminal maospati, sungguh nikmat bukan ? hehe

Saya pun, memeriksa motor saya, untuk memastikan tidak apa-apa. Hampir setengah jam saya beristirahat, namun tak lama kemudian, saya bergegas melanjutkan perjalanan lagi menuju basecham gunung lawu yang berada di jalur cemoro sewu.

Setelah hamper dua puluh menit, berlangsung dalam perjalanan menuju basecham, akhir nya saya memutuskan berhenti sejenak untuk membeli logistk pendakian di pasar plaosan, kebetulan pasar itu se-arah dengan saya yang lagi menuju basecham gunung lawu.

Tak lama kemudian selepas belanja logistik dipasar, saya pun memulai perjalanan kembali menuju basecham.

***

Sore menjelang malam, pukul lima sore di dalam hutan, dalam keberadaan dingin dan kabut, disinilah basecham comoro sewu, setelah beberapa menit selepas kedatangan saya di basecham.

Malam pun tiba dengan dingin dan angin kencang, saya tak lagi sendiri berkenalan dengan dua pendaki yang berasal dari kabupaten magelang, jawa tengah. Dua orang itu bernama choirul dan priyo, mereka hanya berdua di basecham, ditambahi oleh saya, menjadi tiga.

Beberapa saat kami bercanda, choirul mengabarkan bahwa besok ada kawan nya yang menyusul.

***

Esok datang juga dengan kesejukan Bunga dan suara burung di cemoro sewu, megetan (16/08/2019). Pagi itu saya berkeliling di wilayah cemoro sewu, guna menikmati hari pagi yang sangat dingin.

Waktu cepat berlalu, yang tadi pagi tetapi sekarang dengan cepatnya sudah memasuki waktu siang. Ada empat cewek yang berasal dari madiun, datang untuk melakukan pendakian bersama, setelah mengkabari choirul beberapa saat.

Namanya Nujum, seorang anak kelas tiga sma pada waktu itu (16/08/2019) dia tak banyak bicara tetapi murah senyum. Waktu memasuki pukul dua belas, kami pul segera melakukan perjalanan dari basecham.

***

Perjalanan yang cukup lama sekitar empat jam, cukup membuat kami pun merasa kelelahan sekitar jam lima kami sampai pos tiga, cukup lelah dan tak beraturan nafas ini. Sejenak menikamti sore, sambil memasak minuman dan makanan ringan untuk menunggu waktu magrib sekaligus beristirahat sebentar.

***

Malam datang waktu menunjukan sudah melewati waktu magrib, kami pun bergerak kembali untuk menuju pos terakhir (pos mbok yem), diwaktu itu pun kami bergegas cepat.

***

Memasuki pukul sembilan, kami datang dipos mbok yem. Oh iya, pos mbok yem itu sebuah warung diatas gunung lo ya hehehe. Selain tempat yang luas untuk membuka tenda dan membeli makan, mbok yem juga jual nasi sotoo dan rawon hehehee..

***

Dimalam bahagia itu kami pun memulai mengakhiri hari dengan memejamkan mata dan tidur dikemudian waktu

***

Pagi (17/Agustus/2019), upacara kemerdekaan diatas gunung lawu dan juga banyak yang datang untuk meramaikan hari itu. Ada dari organisasi mapala hingga sispala maupun komunitas dan ormas yang terlibat dalam upacara bendera dipuncak gunung lawu.

***

Kurang lebih empat jam diatas puncak, akhirnya saya pun mengeluarkan sikap untuk melanjutkan perjalanan sendiri untuk turun di basecham. Tetapi saya tak langsung pergi, tetapi saya masih meninggalkan jejak, dengan membagikan nomor hp saya kepada kawan-kawan disana.

***

Kurang lebih empat jam, selepas dari puncak menuju basecham cemoro sewu, dan akhirnya sampai juga

***

Terimakasih, Rudy Bojonegoro, Choril & Piryo Magelang, Nujum & Tiga kawannya Madiun

Tinggalkan Balasan