Siapa yang tidak kenal dengan permainan sepak bola, sebuah bidang olahraga yang mainkan oleh 11 orang ini sangat menarik penggemar dan pratisipasi masyarakat untuk memainkan dan mendukung. Sepak bola memang sudah melegenda didalam sejarah olahraga, baik yang dimainkan oleh club-club maupun oleh Negara-negara yang turut serta dalam sepak bola.

Namun didalam sebuah bidang olahraga ini menuai kontroversi, baik dengan bisnis terbuka sebut aja sponsorship, tetapi juga bisnis terselubung didalamnya sebut aja perjudian.

Dalam semarak dunia sepak bola, tentu sangat digemari oleh masyrakat diseluruh dunia. Akan tetapi dominasi penggemar rata-rata dari kalangan pekerja. Jika di Indonesia, sebagaian besar digemari oleh pekerja-pekerja pabrik, swalayan, harian dll. Mereka kompak, mereka datang dari seluruh penjuru kota, bahkan penjuru negeri sekalipun, sekedar melihat sepak bola.

Baca Juga : Hidup adalah Perjuangan

Beberapa waktu berlalu, dari piala dunia pertama hingga di Russia, begitu dengan liga primer inggris maupun la liga spanyol, 80% supporter yang hadir adalah kaum pekerja bahkan 20% kaum elite yang gemar menonton sepakbola.

Harga tiket stadion memiliki kelas nya, seperti vip, eksekutif, hingga kelas ekonomi. Disinilah perbadingan status kelas sosial terjadi, dari harga kursi trimbun pun mulai Nampak berbeda. Pembeli pun berbeda, jika vip dan eksekutif hanya kalangan orang menengah keatas, berbalik dengan orang yang membeli tiket ekonomi yang rata-rata para kaum pekerja dari kalangan menengah kebawah.

“Harga tiket : eksekutif 1juta, vip 500ribu, ekonomi 100ribu” Jelas dengan perbedaan harga tentu mempengaruhi fasilitas dan kenyamanan dalam stadion sepak bola.

Selain nominal kelas sosial dan harga tiket, ada juga yang menjengkelkan. Seperti organisasi sepak bola seperti fifa, pssi dll. Dalam organisasi memiliki kapasitas untuk mengembangkan dan memajukan bidang olahraga sepak bola. Tetapi banyak sekali kasus-kasus yang telah dibuat oleh organisasi persepakbolaan.

Kasus-kasus yang terjadi bukanlah kasus yang ringan dan gampang, melainkan memiliki skala yang besar seperti korupsi, bisnis illegal, penekanan psikologi pemain untuk perjudian, jual beli saham club untuk kepentingan investasi. Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki sepak terjang dalam mafia bola, adanya beberapa dwi fungsi program dari organisasi pssi seperti adanya LPI (Liga Primer Indonesia)  & ISL (Indonesia Super Liga) kala itu. Dengan dwi fungsi program, mengakibatkan konterversi adanya benturan kepentingan politik yang sengaja menduduki segi persepak-bolaan di Indonesia.

Jika menelaah kembali perkara itu ditahun 2013-2016. Kasus tersebut masih melekat dengan adanya digradasi club-club sepak bola, seperti Persibo Bojonegoro, Persebaya Surabaya, Sriwijaya Fc Palembang, Persipura Jayapura, kala itu. Digradasi liga adalah bentuk dari kegagalan pssi yang mencampur adukan sepak bola dengan kedudukan politik praktis.

Leave a Reply