Berlabuh dalan fikiran menuju hati, diantara dalamnya ambisi dan amarah diri. Kali ini aku mengujungi tempat singgah yang cukup untuk melepaskan semua prihal keangkuhan duniawi. Iya, di Brondong, Lamongan Jawa Timur, adalah tempat paling awal diawal bulan November.

Roda-roda motor berputar diantara hutan dan menyusuri desa-desa. Sungai bengawan solo yang berada pada ujung taringnya kembali menapakkan keganasannya, dengan setiap arusnya.
Aku suka, kenangan ini sungguh tak terlupakan.

Hati yang ikhlas, cinta kepada kehidupan banyak sekali ketimpangan sosial yang menghiasi perjalanan ku, kala itu.

Menaiki motor, melaju sepenuh hati, dengan semua harapan, dan cinta. Menjadikan kesan berbeda, saat mengunjungi rumah kawan aku, yaitu azmi di Sedayu Lawas, Lamongan.

Diajak ngopi disebuah tempat yang sungguh indah, dimana kopi yang disajikan juga khas akan produksi rumah (home made), juga melihat pemandangan laut yang elok dan menawan.

Aku malu, seribu tanya kenapa ? dunia ini tak adil dengan semua permasalahan ekonomi, bahkan rakyat harus menelan pahitnya hidup, diantara kapal–kapal besar dan mewah. Brondong yang menjadi pusat ekonomi, tentu menghasilkan nomimal hingga miliyaran rupiah. Namun sangat disayangkan, bahwa rakyat hanya alat yang bisa usang kapan saja, dan kaum pemodal yang menang.

Tinggalkan Balasan